Pengeroyokan Irfan Terungkap Lewat CCTV Maleo, KNPI Harap Pelaku Ditangkap

7
Ilustrasi Pengeroyokan. (foto.net)

LENSASULAWESI.ID, MAMUJU – Kasus penganiayaan sekertaris DPD II partai Golkar kabupaten Majene, Irfan Syarif, masih diselidiki polisi. Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Barat berharap pelaku segera ditangkap.

Dari informasi yang dihimpun wartawan. Irfan Syarif juga merupakan Presidium KNPI Sulbar.

BACA JUGA

Irfan dianiaya orang tak dikenal usai menghadiri Musda DPD I partai Golkar Sulbar pada, minggu, 19 Juli 2020, sekitar pukul 04.00 WITA malam, di D’Maleo Hotel, Jalan Yos Sudarso, Mamuju.

“Kami mengutuk aksi preman terhadap saudara irfan syarif yang juga presidium KNPI Sulbar,” kata Muh. Abrar, Sekertaris DPD I KNPI Sulbar, minggu (19/7).

Abrar mengatakan, sudah melaporkan peristiwa yang menimpa rekannya ke Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI di Jakarta.

“Kita sudah komunikasi dengan pengurus DPP. Kami diintruksikan untuk mendampingi kasus Irfan sampai pelakunya ditangkap,” tegas Muh. Abrar.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polresta Mamuju, Syamsuryansha, mengatakan sudah memeriksa sala seorang karyawan D’Maleo Hotel (namanya tidak sebutkan) sebagai saksi.

Selain memanggil saksi. CCTV D’Maleo Hotel & Convention Mamuju pun sudah dibuka oleh polisi.

Dari penjelasan penyidik, beberapa orang terekam camera yang diduga terlibat dalam peristiwa pengeroyokan itu. Dua orang disebut paling aktip melakukan pemukulan terhadap korban.

Sayangnya, penyidik mengaku kesulitan dalam mengungkap identitas pelaku karena tampilan gambar yang terekam melalui CCTV Hotel Maleo sedikit buram.

“Saya sudah membuka tetapi itu agak buram,” kata Syamsuriyansha, senin, 20 Juli 2020.

Dari hasil rekaman CCTV, pihak kepolisian mengaku sudah mengantongi identitas sala seorang yang diduga sebagai pelaku di Kabupaten Mamuju Tengah.

Namun saat hendak dijemput untuk diidentifikasi, pelaku sedang tidak berada di rumahnya.

“Tadi saya ke Mateng. Ada anggota yang kenal (red,) sehingga kami identifikasi. Kami dari rumahnya tapi tidak ada itu orang. Jadi bisa katakan dia sala satu pelaku lah,” ujar Syamsuriyansha.

Polisi juga mengambil keterangan saksi dari wartawan TVRI, Rahmat Tahir, yang dalam laporan polisinya mengaku sebagai korban.

“Menurut dia (Rahmat Tahir, red) juga dipukul tetapi dia tidak mengalami luka karena didorong saja sama dipukul punggungnya,” sambungya.

Rahmat Tahir yang tak lain adalah sepupu Irfan Syarif – bersama korban di Hotel Maleo saat kejadian.

Syamsuryansha menjelaskan, antara penganiayaan terhadap pers saat bertugas dengan penganiayaan murni terhadap oknum wartawan itu berbedah.

“Tolong dipisahkanlah yang kayak seperti itu,” harapnya.

Ia mengatakan belum bisa mengungkap motif pelaku. Juga belum mengetahui kaitannya dengan pelaksanaan Musda DPD I Golkar Sulawesi Barat.

“Tetapi ada isu yang beredar bahwa mengenai postingan si korban di media sosial di bulan april yang menyentil persoalan pribadinya pak bupati (Aras Tammauni, red) soal penanganan Covid,” simpul Syamsuryansha.

Berdasarkan penelusuran laman kami di lama facebook Muhammad Irfan Syarif, selasa, 21 Juli 2020.

Irfan mengkritik kinerja Bupati Mamuju Tengah, Aras Tammauni, dalam menangani pandemi Covid 19.

Hal itu ia tulis 2 kali melalui laman facebooknya pada, 10 April 2020, dan mengutip link berita terkait kasus Covid 19 di Mamuju Tengah.

“Pak Bupati Mateng. Seharusnya melakukan tindakan tegas atas peristiwa ini bukan tindakan kasar Dan melakukan kebijakan yang sektarian serta bukan dengan hanya menyumbangkan Gajinya,” tulis Muhammad Irfan Syarif di status Facebooknya.

“Inilah salah satu bukti seorang Bupati yang tidak melakukan kerja-kerja sistematis dalam penanggulangan dan pencegahan COVID-19,” sambung Irfan di statusnya, mendapat 175 komentar yang beragam dari netizen.

Masih status Irfan, “Kalau seperti ini gaya kepemimpinan di Mateng, kemungkinan pemandangan Positif COVID-19 Di Mateng akan bertambah lebih banyak dan tidak tertutup kemungkinan akan ada lagi korban dan konflik sosial akan bertambah besar,”

“Karena potensi karakter kepemimpinan seorang Bupati yang lebih mengumbar Uang dalam menangani kebijakan,” katanya.

“Lebih penting satu nyawa dipelihara daripada Harta yang bergunung-gunung. Di Majene. Pasien dengan inisial J, Alhamdulillah dinyatakan sembuh,” tutup Irfan Syarif dalam statusnya.

Status Muhammad Irfan Syarif ini pun sudah ia klarifikasi pada 11 Juli 2020, sehari setelah ia posting ( lihat disini; https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2911061559178780&id=100008248940953 ). (LS)

Reporter: Ahmad Nur/Muhlis

7 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here