Opini: New Normal Dalam Kondisi Abnormal

Oleh : Ahmadi Salim

7
Foto.Net

SATU hal yang perlu dihindari dari efek corona adalah chaos.

Kondisi chaos akan hadir bukan by design jika menghadapi masalah tanpa menghadirkan kebijakan yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi masyarakat dalam kondisi abnormal.

Anggaran bukan tolak ukur satu satunya sebagai power of actuality tapi yang utama adalah kebijakan sistem sebagai pengendali utama penanganan suatu masalah.

Sebagian ragu dengan New Normal dan ada pula yang optimis terhadap kebijakan baru dalam masa pandemi.

Kejadian pemukulan terhadap salah satu Tim Gugus Tugas Covid-19 Mamuju bukan merupakan bentuk chaos namun lebih pada kriminal murni atas implementasi protokol kesehatan yang dilakukan tim gugus.

Saya tidak melakukan pembelaan atas aksi kekerasan tersebut namun lebih pada kritik terhadap Tim Gugus dalam menangani virus ini.

Sebelumnya Tim Gugus Mamuju menangani kasus salah seorang pasien yg positif namun kategori OTG dan masuk kelaster ringan tapi dijemput paksa.

Protokol kesehatan membolehkan karantina mandiri namun sayang. Diantara kita ada saja terjangkit penyakit bawaan dari corona secara tidak langsung yaitu ketakutan berlebihan dan mendesak Tim Gugus Tugas untuk jemput paksa.

Hingga akhirnya pengaruh desakan ketakutan sehingga Tim Gugus Tugas melakukan tindakan jemput paksa.

Bagaimana dengan insiden kekerasan atas keluarga pasien terhadap tim gugus?

Apakah pasien tersebut dalam klaster sedang atau berat yang memiliki penyakit bawaan ataukah termasuk kategori klaster ringan ?

Sekarang mari kita membandingkan kasus lain seperti klaster Pontana Kayyang – tentu tidak bisa disamakan karena sudah termasuk dalam local transmisi. Sehingga langkah tim Gugus Tugas Mamuju Tengah sudah tepat melakukan isolasi seluruh pasien covid-19 dalam kendali Rumah Sakit baik ringan, sedang maupun berat sembari menormalkan wilayah pontana kayyang bebas covid-19.

Meski ada beberapa keluhan dari keluarga pasien terkait layanan rumah sakit rujukan covid-19 tentu bukanlah persoalan mendasar tetapi secara psikologi *terhukum tanpa bersalah lebih menyakitkan dari orang yang benar benar melakukan kesalahan*.

Hal inilah yang tidak diperhitungkan oleh Tim Gugus Tugas Mamuju.

Kalau kita menghitung budget tentu lebih banyak dipakai jika melakukan isolasi termasuk pasien OTG dalam kategori import case – bukankah pasien tersebut anak santri dari luar yang mengisolasi diri sudah lama dan terbukti tidak menularkan ke yg lain karena taat protokoler isolasi mandiri ?

Inilah catatan saya untuk kawan kawan yang ada di Tim Gugus Tugas Covid-19 Mamuju sebagai salah satu Jalan menuju New Post Normal.

7 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here