Operasi Tanpa Izin, Tambang Galian C di Mamuju Tengah Telan Korban Jiwa

2
Sahdan Husain (kiri) usai berkonsultasi dengan Kepala Bidang Pertambangan Umum, Dinas ESDM Provinsi Sulbar - Patrik Galampo (tengah bagian kiri), selasa 14 Januari 2020, di kantor Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat. (Foto: WhatshaApp)
LENSASULAWESI.ID, MATENG – Tewasnya Muh. Adrian Hidayat, bocah berumur 12 tahun asal Desa Kambunong akibat tertimpa batu berukuran besar disorot aktivis Mamuju Tengah – Sahdan Husain.
Sahdan Husain saat menceritakan kronologi kejadian mengenaskan itu mengatakan, Adrian Rahmat – bocah kelahiran 2008 itu menjadi korban Tambang Ilegal Galian C pada kamis lalu, 9 Januari 2020, di Desa Kambunong, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah.
Awalnya Adrian bersama teman-temannya sedang bermain dan menonton alat berat jenis Excavator yang tengah beroperasi mengeruk bukit batu pantai kambunong.

Baca Juga

Sahdan mengatakan, tiba-tiba batu berukuran besar jatuh menggelinding dari atas bukit ketinggian kurang lebih 40 meter dan membentur kepala Adrian yang membuat korban meninggal dunia.
“Anak itu bermain sambil meyaksikan alat berat yang sedang beroperasi, tiba-tiba batu jatuh dari atas bukit dan menghantam kepala korban.” Kata Sahdan Husain.
Sahdan mengungkapkan, pihaknya sudah berkonsultasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulbar terkait izin perusahaan tambang galian C di Desa Kambunong. Ia menyebutkan perusahaan yang melakukan penambangan itu tidak memiliki izin atau Ilegal.
“Setiap ada pengeluaran komoditas bahan galian dari aktifitas penataan lahan harus mengantongi izin. Sementara hasil konsultasi kami dengan Dinas ESDM Sulbar bidang pertambangan umum, ternyata tambang itu ilegal,” sambungnya.
Muhammad Adrian Hidayat (12), bocah yang menjadi korban Tambang Galian C di Desa Kambunong, Kecamatan Karossa, Mamuju Tengah. (Foto.Istimewah)
Selain itu, kata Sahdan, hingga kini pihaknya tidak memgetahui nama perusahaan yang melakukan penambangan tersebut lantaran tidak ada penanda apapun atau papan proyek yang dipasang dari perusahaan.
“Operasi penambangan Galian C di pantai Kambunong tidak memenuhi standar keselamatan kerja atau tidak safety. Informasinyapun sangat tertutup, warga tidak mengetahui perusahaan mana yang mengelolah tambang galian C itu,” ungkapnya.
Ia meminta Kepolisian Daerah (Polda) Sulbar untuk menertibkan dan menghentikan perusahaan yang menambang secara Ilegal di Desanya.
“Kami minta Polda Sulbar untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Kami minta untuk menghentikan semua aktifitas Galian C di mamuju tengah yg tidak mempunyai izin, jangan sampai menelan korban lagi.” Tegas Sahdan, aktivis asal Kambunong, Mamuju Tengah.
Sementara, Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (PU-ESDM) Provinsi Sulbar – Patrik Galampo, saat dikonfirmasi pada rabu (15/1), membenarkan hal itu.
Patrik mengatakan, sejauh ini pemerintah provinsi sulawesi barat belum pernah menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi di Desa Kambunong, Mamuju Tengah.
“Sehingga apabila ada aktifitas penambangan di sana itu termasuk kategori pertambangan tanpa izin.” Jelasnya.
Soal penertiban tambang Ilegal. Patrik mengatakan, itu kewenangan pihak kepolisian karena Dinas ESDM belum memikiki Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) untuk penegakan undang-undang Mineral dan Batubara (“UU Minerba”).
Lokasi Tambang Galian C di Pantai Kambunong, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah. (Foto: Geogle Earth)
“Itu diluar kewenangan kami. Kami hanya dapat menghimbau sambil arahkan untuk legalkan kegiatannya dengan urus izin usaha pertambangan (IUP).” Tutup Patrik.
(LS/monas)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here