Kemah Ilmiah dan Bubarnya Sekolah Alam Salu Le’bo

1
Solidaritas Pemuda Mahasiswa Sulbar ini merupakan gabungan pemerhati pendidikan antar lembaga HMI Komisariat Topoyo, GMNI, PRD dan LMND.
LENSASULAWESI.ID, MATENG – Sekolah alam atau sekolah kolom di Desa Salu Le’bo, Kecamatan Topoyo, kabupaten Mamuju Tengah nyaris tinggal nama. Sebagai upaya untuk bertahan, Solidaritas Pemuda Mahasiswa Sulawesi Barat (SPMS) menggelar Kemah Ilmiah yang dirangkaikan dialog dengan tema; Ada apa dengan sekolah alam salu le’bo ?, di Patulana, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah.
Sekolah alam dengan fasilitas seadanya yang terletak di tengah hutan belantara ini, sempat menggemparkan dunia pendidikan berkat seorang pemerhati pendidikan bernama Aco’ Muliadi yang mendirikan sekolah ini pada tahun 2004.
Foto; Siswa-siswi sekolah saat menggelar upacara.
Namun belakangan diketahui, sekolah ini ternyata sudah tidak aktif sekitar delapan bulan pasca di relokasi oleh pemerintah. Sayangnya, relokasi yang dilakukan oleh pemerintah ini justru terkesan dipaksa dan membuat anak-anak di sekolah ini berhamburan dan putus sekolah.
Diceritakan oleh Muliadi, sekolah ini telah pindah ke Desa Patulana, kecamatan budong-budong karena merasa terganggu.
Bangku dan meja sekolahnya di ambil oleh sejumlah oknum yang diduga suruhan kepala desa dengan membawah benda tajam. Serta banyaknya tindakan intimidasi terhadap sejumlah guru-guru di sekolah alam ini menjadi penyebab sekolah ini tak aktip lagi.
Yang pertama, kata Muliadi, karna ada gangguan dari pemerintah, persoalan pemindahan, sebenarnya kami tidak pernah memindahkan ke Patulana, itu murni inisiatif siswa-siswi mengikuti gurunya yang pulang meninggalkan tempat tersebut karna banyaknya intimidasi,” kata Muliadi.
” Kondisi murid-murid saat ini, berhamburan. Ada yang masih sekolah di gedung yang disiapkan pemerintah yang menurut hemat kami tidak begitu layak dan ada yang mengikuti gurunya ke patulana untuk tetap bisa belajar. Bahkan ada beberapa siswa memilih untuk tidak bersekolah lagi karena trauma saat menyaksikan beberapa suruhan kepala desa untuk mengambil paksa bangku dan mejah, dan membawah parang panjang,” ungkap Muliadi sang pemerhati pendidikan ini.
Banyaknya intimidasi tidak membuat Muliadi sang penakluk kebodohan ini berhenti untuk memperjuangkan masa depan anak-anak di sekolah ini. Berulang kali ia berupaya berdialog dengan dinas pendidikan Mamuju Tengah hingga DPR namun tak membuahkan hasil.
Foto; kondisi belajar anak-anak sekolah alam salu le’bo dibawah kolom rumah.
Kemah Ilmiah ini berlangsung selama dua hari, 19 juli sampai dengan 20 juli 2019. Kegiatan ini diharapkan melahirkan solusi dan menjadi rekomendasi ke pemerintah pusat dan daerah.
” Ini bukan lagi persoalan sekolah Alam yang tidak berproses, tetapi mau diapakan itu anak-anak yang sampai saat ini tidak pernah belajar ?. Semoga dalam diskusi kali ini melahirkan sebuah solusi dan bisa di rekomendasi,” tutup Muliadi, pagiat literasi pendidikan ini. (red/shompak).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here